Thursday, December 10, 2015

Pattimorang Gua Bessi Mallajang

Percika bunga api yang menyembur memecah gelap malam. Dari kejauhan, suara pertarungan antara palu dan besi yang telah melebur dalam panasnya arang memecah kesunyian malam. Cahaya dan bunyi ini acap kali terdengar setiap malam pertama dan kelima dalam hitungan minggu. Tapi entah kenapa, semusim ini cahaya dan suara itu terus saja terlihat dan terdengar dari belakang rumahku di seberang bukit di dalam Gua Pattimorang.

Gua itu disebut Pattimorang oleh penduduk setempat karena tanah disekelilingnya begitu tandus sehingga rerumputan tidak satupun yang tumbuh. Hanya satu batang pohong beringin yang tumbuh pas didepan mulut Gua yang begitu besar, tinggi dan akar-akarnya bergelantungan. Menurut kakekku, Pohon itu sudah tumbuh lama sebelum kampungku. konon, setiap pasukan Arajang yang akan pergi berperang yang tidak memiliki senjata akan datang ke mulut Gua bersemedi dan berpuasa selama empat puluh hari, jika beruntung mereka akan membawa pulang senjata yang mereka kehendaki sehingga selain di sebut Gua Pattimotang tempat itu juga disebut dengan Gua Bessi mallajang.

Kabar dari kampung seberang sontak membuat panik Kakek, Kabar akan adanya selisih paham antara Antara keluarga  La Tenri beta dengan Karaeng Lompo Golo akan membawa petaka dalam kampung kami. Kampung yang aku tinggali ini merupakan tanah perbatasan antara kedua keluarga yang berkuasa. Kampung ini tepat berada di atas bukit yang menjadi tempat yang strategis untuk menghalau lawan karena di kedua sisi terdapat jurang yang dalam dan hutan Sobbu, hutan yang sangat luas dan ditumbuhi pohon-pohon rimbung  dan dihuni banyak ular dan binatang buas. sudah banyak orang-orang yang masuk ke hutan mencari kayu untuk membangun rumah atau kayu bakar hilang begitu saja sehingga tidak sekalipun dari penduduk kampung berani masuk.

Pertikaian kedua keluarga besar ini dipicu hanya masalah sepele, Ayam La Pongrong anak La Tenri Beta kalah dalam sabung ayam oleh anak Karaeng Polo Bangkeng anak Karaeng Lompo Golo. Karena Ayamnya kalah dan tidak terima, La Pongrong marah dan bermaksud menikam Ayam Karaeng Polo Bangkeng, sebelum menikam Ayam Karaeng Polo Bangkeng, La Pongrong ditikam oleh Karaeng Polo Bangkeng. sehingga La Tenri Beta sangat marah dan mengumpulkan sanak keluarganya untuk menuntuk balas kematian anaknya yang tewas tertikam seperti ayamnya. Kabar ini lah yang membuat panik Kakek, Pertikaian ini akan menjadi semakin besar dan melahirkan banyak korban yang mungkin akan menimpa Kampung ini, kampung kelahiranku.

Kabar yang datang ini menjadi bungan tidurku yang acap kali membuatku bermimpi dan terbangun tengah malam. dalam mimpiku, Cahaya merah terang menghiasi kampungku, teriakan tangis bergema di mana-mana, darah berjatuhan dari langit layaknya hujan lebat ditengah malam, dan Perempuan-perempuan berlari tanpa pakaian dengan bola mata pecah dan luka sayatan disana sini menghiasi sekujur tubuhnya.

Mimpi yang datang acap kali itu aku ceritakan kepada Kakek. kakek sontak terkejut diam dengan wajah datar dan pucat.

" Maragaki, Macole moa pappaneddita Puang ?".

"Enna Nak, Katulu-tulumu ritu pada lebba katulu-tulukku, Ula Loppo mallomo makkalukiki kampponge, Inddomu, Anrrimu Becce, na Sappomu kuwita ri tingroku lari mappelang-pelang enna matanna na cera mitti-mitti  messu manccaji wae matanna, Mata essoe mangcaji macella". Kata Kakek dengan nada pelan dan air mata menetes membasahi kulit pipinya yang berkeriput.

 "jadi ku pakkituni Puang, elona Ia maraga, Ambbeku mallajang ni lao Ri Dewata SeuwaE, ennani barumppungnna Kamppong Ri Ngaliki e ri La Tenri Beta na Karaeng Lompo Golo, pada leluasani mattama ri Kampponge malluja".

"Ku pakkitu Nak, pada paggasuani Sapponu nannia silong-silongmmu huranewe baja ri Bolae, na ri caritaki maraga colenna". Kata kakek dengan nada rendah dan wajah yang sama, wajah dengan pucat dan air mata.

Keesokan harinya, saat mentari tepat diatas kepala, Karaeng Lompo Gola dengan menunggangi kuda hitam bersama puluhan laki-laki dengan Badik dan Sapukala terselip di pinggangnya datang kerumah dan mencari Nenekku.

"Tegaki Puang Sattu Allang ?". Kata Karaeng Lompo Golo dari atas kuda Hitamnya.

"Iye engka moi ri laleng ri Bolae Karaeng, mattamaki iye ri laleng bolae".

Dengan destar merah tegak berdiri, karaeng Lompo Gola turun dari kuda hitamnya dan naik kerumahku, Langkah kakinya menapaki satu persatu anak tangga rumahku, Ia naik Kerumahku bersama empat laki-laki lainya dengan destar merah tegak berdiri dan Sapukala menghiasi pinggang mereka. Wajah mereka tidak sama sekali rama, dengan wajah yang muram dan rambut panjang terurai turun sampai ke bahunya. mereka kemudian duduk bersilah sambil menggulung tembakau yang mereka ambil dari lipatan sarungnya.

"Puang Sattu Alang, Iya lao kewe ri bolamu mappalettu ada". Kata Kareng Lompoa dengan nada tegas.

"Iye aga arodo Kareng adatta". Balas kakek dengan nada pelan.

"Ri pitungesso, Idi sibawa Sajitta marana nannia Iya maneng tauwwe ri kamppongnge kwede pada nasalaiki bolana, lecceki mabela-bela. nannia ritu taroangnga anak burane malessie nannia bata na berremu ri bolae kwede, nasaba areddi Kampponge kungakuiki punnaku nannia sajikku, punna teaki lecce, tania carita melampe Puang Sattu, Idi sibawa tauwwe makkita anu makalallaing". Ucap Karaeng Lompo gola dengan nada tegas, berdiri, dan beranjak turun dari rumahku bersama keempat laki-laki lainya. Setelah itu mereka kemudian pergi begitu saja dan menghilang di ujung jalan.

Kata-kata Karaeng Lompo Golo bagai petir yang menyambar kepalaku, pecah dan berceceran ditanah. Ucapan uang mengharuskan dan tidak boleh tidak untuk pergi meninggalkan Rumah, Kampung, Makanan kami ini dan jika kami menolak maka sesuatu hal yang tidak terbayangkan akan menimpa kami dan seluruh penduduk Kampung.

Malam pun tiba, Rumahku penuh sesak dengan kedatangan penduduk Kampung yang lain,Tetua dan pemuda Kampung ada di dalam rumah duduk bersilah membicarakan tindakan apa yang akan kami tempuh, dan di bawah rumah perempuan dan anak-anak menunggu keputusan apa yang akan kami ambil, keputusan yang akan menentukan nasib kami, nasib anak-anak, pera Ibu, dan pemuda Kampung. Pembicaraan malam itu menghasilakan tiga keputusan. pertama, pergi meninggalkan desa, menyimpan sebagian makanan dan Laki-laki yang sehat kuat untuk membantu Karaeng Lompo Golo melawan keluarga La Tenri Beta. Kedua, mengutus utusan ke Keluarga La Tenri Beta untuk membantu kami melawan Karaeng Lompo Golo. dan Ketiga adalah pilihan terakhir dimana kami akan melawan siapapun yang masuk ke Kampung kami. dari ketiga keputusan itu membawa pembicaraan yang alot dan panjang. Kami tidak boleh pergi meninggalkan Kampung, makanan, dan Laki-laki. maka pada malam itu keputusan yang kami sepakati adalah keputusan kedua dan ketiga, Kami harus segera mengirimkan utusan untuk berbicara dengan Keluarga La Tenri Beta.

Aku adalah pemuda cucu dari orang yang dituakan di Kampung, Ambbeku adalah seorang To Barani yang gugur dalam perang membela Mangkasue Ri Bone. Hampir setiap pemuda yang ada di Kampungku memiliki badik dan parang warisan dari ayah mereka, hanya saya yang tidak mendapat warisan dari Ambbekku.

Masalah ini sontak menjadi sebuah kekurangan dalam kedewasaanku, aku adalah seorang pemuda dari To Barani pasukan Mangkasau dan cucu dari orang yang sangat dihormati, sedangkan warisan seperti Badik dan senjata lainnya tidak saya miliki. Hal ini merupakan sebuah kekurangan bagi laki-laki dalam adat keluarga dan suku aku. bagi seorang laki-laki Bugis yang beranjak dewasa, adalah sebuah keharusan untuk mengcukupkan tulang rusuk mereka yang dipinjamkan kepada perempuan yang kelak mendampinginya. sebelum menemukan perempuan itu, Laki-laki itu harus menggantinya dengan Badik yang diselipkan di pinggangnya, selain sebagai simbol kelaki-lakian, Badik ini juga merupakan simbol bahwa si pembawa badik siap menjaga dan mempertaruhkan Siri dan keluarga mereka dari segala macam gangguan, sehingga Laki-laki yang menyelipkan Badik di pinggangnya berarti adalah seorang Laki-laki yang memiliki martabat dan kedewasaan yang tinggi.

Cerita dari kecil tentang adanya Gua Pattimorang, tempat para pasukan To Barani Arrajang mendapatkan pusaka mereka membangunkanku. Ternyata malam ini adalah malam Jumat dengan Rembulan yang bersinar cerah, malam yang tepat untuk mendapatkan pusaka untuk saya sendiri. Tanpa pikir panjang, hanya dengan baju dan sarung saya kemudian berjalan menuju Gua Pattimorang di bawah sinar rembulan, di balik rerimbung hutan dekat jalan setapak menuju Gua terdengar banyak suara tawa dan teriakan yang samar, kadang suara tawa itu berubah menjadi suara rintihan, bulu-bulu halus di tangan dan kakiku serasa begitu tebal, punggungku begitu berat dan panas, segala mantera yang di ajarkan Kakek keluar silih berganti, kakiku terus melangkah, dalam otakku yang terpikirkan adalah datang ke Gua Pattimorang dan pulang membawa apa yang aku inginkan.

Keringat bercucuran di wajahku, napasku terengah-engah, kakiku terasa sakit tertusuk ranting dan rumput yang aku lalui, Mulut Gua dengan Akar-akar pohon beringin bergelantungan nampak begitu jelas disinari cahaya rembulan. dalam Gua terlihat begitu gelap dan sesekali terasa hembusan angin keluar dari mulut Gua, di bawah Pohon beringin terdapat batu yang dukup besar dan datar dengan sisa sesaji, selain itu berbagai jenis bunyi terus saja silih berganti datang dan pergi, suara tawa dan tiba-tiba berganti dengan suara tangisan dan rintihan. dengan mengumpulkan sisa keberanianku setelah perjalanan tadi, aku mencoba memanjat naik ke batu dan duduk bersila sambil memejamkan mata. rasa panas dan keringat yang membasahi tubuhku tiba-tiba hilang  bergantikan dingin yang begitu menusuk tulang, aku terus mencoba menahan dingin yang menyerang kulit-kulitku yang serasa jutaan semut menikamkan taringnya dan menembus sampai ke tulang. aku terus berusaha menahan rasa dingin. Tiba-tiba seluruh bunyi menghilang, rasa dingin menjadi hangat, kuberanikan membuka mata, yang ada hanya kekosongan ruang gelap yang dengan keheningan yang maha hening yang semakin membuatku mengantuk dan tidak tertidur.

Saat terbagun, muncul didepanku sebilah badik dengan urat yang berkilau disinari cahaya mentari. tanpa aku sadari, ternyata aku telah tertidur di bawah pohon Beringin itu sampai mentari bersinar cukup terik dan panas. Akhirnya, usaha dan keberanianku yang aku kumpulkan membuahkan hasil, tenyata cerita tentang Gua Bessi Mallajang benar-benar nyata, aku pulang dengan membawa sebilah Badik, akhirnya aku menajadi lelaki yang utuh.

Keesokan harinya, saat cahaya mentari muncul di selah-selah Gunung Lompo Battang. Saya, Kakek, dan dua pemuda lainnya pergi ke ke Kampung seberang, kampung keluarga La Tenri Beta untuk membicarakan masalah yang menimpa kami sekaligus meminta bantuan. Perjalanan kami tempu sehari dengan menunggangi kuda dan sampai saat sore hari.

"Tabe Puangkku mallompoe La Tenri Beta, Ri Addampengangnka, Ia lao mai ri olota millau pammase Ri Puangkku malompoe. Nasaba idimi nasibawa Karaeng Puangku Dewara SeuwaE mulle mperengka pammase nasaba Karaeng Lompo Golo pole ri kamppongkku elo mappinasa". Ucap kakek dengan wajah menghadap lantai papan dan suara pelan.

"Puang Sattu Alang, Enna gaga mulle kupirengki, nasaba iya parellu to, baja ribajae iya mito lebbi riolo lao ri kamppongmu mongro mattaro to barani nannia engka wettu macole nooriki kamppongnna Lompo Golo. Jadi seddimi ku arengnggi akessingeng. pada leccemiki lao mabela laiki kamppongmu, Hurane malessie, nannia tarowi aga-agammu iyanaritu berre, bata, nannia olo kolummo, Iya mi ro Puang Sattu Alang". Ucap La Tenri beta dengan nada tegas dan tidak dapat lagi ditawar-tawar.

Kami pulang malam itu juga, Keputusan La Tenri Beta sama halnya dengan keputusan Karaeng Lompo Golo. Keputusan itu membuat kakek tak berbicara sepatah kata pun diatas kuda dalam perjalanan kami pulang ke kampung.

Kami sampai di Kampung sama dengan waktu kepergian kami, kami sampai saat cahaya mentari muncul disela-sela Gunung Lompo Battang. Kakek langsung turun dari kuda.

"Nak, paggasua manenggi huranewe ri Bolae". Ucap kakek dengan tegas.

Tanpa pertanyaan, Aku dan kedua pemuda yang kutemani langsung pergi kerumah-rumah penduduk kampung dan memberitahukan mereka agar segera berkumpul di rumah kakek. Saat mentari semakin panas, seluruh penduduk kampung pun berkumpul di rumahku.

"Enna gagana pappileang, seddimi bahang, Ri patettongi sirita nannia mehaki lettu tubutta kasarae reddi massedi ritanae". Ucap kakek dengan tegas dan menghunuskan Badik yang Ia selipkan disarungnya. Para laki-laki pun membalasnya dengan ucapan yang sama.

Malam harinya, penduduk kampung telah datang dengan hal yang sama, badik terselip dipinggangnya untuk membicarakan rencana mempertahankan kampung. Pembahasan malam itu sangat lama hingga ayam berkokok. Kami akan melawan secara gerilya dengan menghadang mereka di tebing batu, saat mereka lewat kami akan mejatuhkan batu dari atas tebing dan menyerang langsung siapa saja yang selamat. itulah rencana yang akan kami lakukan untuk mempartahankan Kampung kami dan Siri kami.

*** BERSAMBUNG ***

Katangka, 13 Dhul Qa'dah 1436 H / 28 Agustus 2015
Oleh : Zulengka Tangallilia

0 comments:

Post a Comment