Saturday, November 14, 2015

Sebuah Sumber Pribumi tentang Perang Mengkasar

Untuk pertama kalinya sebuah dokumen pribumi mengenai Perang Mengkasar (21 Oktober 1653 – 19 November 1667) yang ditulis oleh salah seorang pelakunya sendiri kini tersedia dalam bahasa Indonesia. Dokumen tersebut adalah Syair Perang Mengkasar yang ditulis oleh Enci’ Amin, jurutulis Sultan Hasanuddin, ‘ayam jantan dari timur’. Akibat konspirasi Cornelis Speelman dan Arung Palakka, Sultan Hasanuddin terpaksa meneken Perjanjian Bongaya (19-11-1667) yang mengakhiri hegemoni Kerajaan Goa kawasan Indonesia bagian timur.

Buku ini aslinya adalah disertasi Cyril Skinner di University of London yang kemudian diterbitkan oleh Martinus Nijhoff di S’Gravenhage (Den Haag) tahun 1963, berjudul Sja’ir Perang Mengkasar (The Rhymed Chronicle of the Macassar War). Usaha Abdul Rahman Abu (penerjemah) dan Ininnawa & KITLV Jakarta (penerbit) untuk menghadirkan versi bahasa Indonesia buku ini, yang versi Inggrisnya sudah cukup lama terbit, patut dihargai sehingga buku ini sekarang dapat diakses lebih luas di Indonesia.

Skinner menemukan dua salinan naskah Syair Perang Mengkasar, keduanya berbahasa Melayu. Naskah pertama, SOAS ms. No. 40324 (naskah S) yang ditulis dalam format syair, merupakan bagian dari koleksi manuskrip Marsden yang diserahkan kepada King’s College, London, pada 1835, yang kemudian dipindahkan ke Perpustakaan School of Oriental and African Studies (SOAS) pada 1920-21. Naskah S merupakan hasil kerja dari dua orang penyalin, tebalnya 38 lembar folio (76 halaman), beraksara Jawi. Namun 13 bait pertama naskah ini sudah hilang. Naskah S disalin di Sumatra, yang mungkin diperoleh Marsden di Bengkulu antara 1771 dan 1779. Bahasa naskah S ini sangat kuat dipengaruhi oleh bahasa Minangkabau (hlm.58).

Naskah kedua (diberi kode L, ditulis tanpa ada pemisahan antar larik dan antar bait) adalah Cod.Or. Bibl. Lugd. 1626 koleksi Universiteitsbibliotheek Leiden, yang juga ditulis dalam aksara Jawi. Naskah L hanya 6 halaman (73 bait) dari keseluruhan Syair ini yang, berdasarkan alih aksara yang termuat dalam buku ini (hlm.75-142), berjumlah 534 bait. Naskah L diperoleh Universiteitsbibliotheek Leiden tahun 1848, bersama-sama dengan naskah lain yang pernah dimiliki oleh Francois Valentijn. Naskah L ini disalin oleh Cornelia Valentijn (istri Francois Valentijn) di Ambon sekitar 1710.

Skinner menyajikan alih aksara Syair Perang Mengkasar dengan memilih naskah S sebagai teks landasan dan memberikan konteks historis dan analisa kesastraan yang memungkinkan pembaca memahami isinya. Ia melakukan critical edition dan bagian yang hilang pada awal naskah S ‘ditambal’ dengan naskah L.

Menurut Skinner teks Syair Perang Mengkasar menjadi delapan bagian (hlm.67-9).

Bait 1-28: Pendahuluan. Bagian ini berisi puji-pijian (doxology), persembahan dan sanjungan untuk Sultan Goa, dan permohonan maaf pengarang.

Bait 29-91: Perang Dimulai. Bagian ini mengisahkan persiapan dan keberangkatan ekspedisi VOC ke Makassar, ikrar sumpah setia orang Makassar kepada Sultan mereka dan kebencian kepada VOC, dan pertukaran surat antara Sultan dengan VOC.

Bait 92-135: Ekspedisi VOC ke Buton. Bagian ini mengisahkan kekalahan pasukan Makassar yang dipimpin oleh Karaéng Bonto Marannu.

Bait 136-148: Ekspedisi VOC mengunjungi Maluku. Bagian ini menceritakan bergabungnya Sultan Ternate dengan ekspedisi VOC dan sanjungan kepada Sultan Goa.

Bait 149-206: Pemberontakan orang Bugis. Kisah dalam bagian ini meliputi kekalahan orang Bugis atas pasukan Sultan Tallo’ di Mampu dan Pattiro, kembalinya para pemenang perang itu ke Makassar, dan permohonan maaf pengarang atas kekurangannya.

Bait 207-423: Perang Mengkasar Pertama. Dalam bagian ini dikisahkan tibanya armada VOC di Makassar yang kemudian menyerang Bantaéng, utusan Speelman dihina, persiapan serangan oleh Makassar, aksi saling bombardir dalam pertempuran hari pertama, berlanjutnya pengeboman, permohonan pengarang agar dikenang, dipatahkannya upaya VOC untuk menguasai Batu-Batu, serangkan VOC ke Galésong, berkecamuknya pertempuran sengit di Batu-Batu menyusul pendaratan pasukan VOC di sana, jatuhnya korban di pihak Makassar, perundingan damai disertai kepanikan, sanjungan buat Sultan Goa dan Tallo’, dan disepakatinya perdamaian.

Bait 424-459): VOC di Ujung Pandang. Bagian ini mengisahkan mulai menetapnya orang-orang VOC di Ujung Pandang (Makassar) dan rasa muak penduduk setempat kepada mereka, pembelotan beberapa karaéng dari Makassar kepada VOC yang bergabung dengan musuh dalam penyerangan ke Sanraboné, dan pengiriman bala bantuan dari Makassar ke Sanraboné di bawah pimpinan Karaéng Jerannika.

Bait 460-513: Perang Mengkasar Kedua. Dalam bagian ini dikisahkan serangan VOC ke Sanraboné, dibakarnya Perwakilan Dagang Inggris dan dipukul mundurnya serangan VOC, pertempuran berlanjut, penyerbuan ke pusat pertahanan Makassar yang masih tersisa dan dihacurkannya benteng mereka, dan mundurnya pasukan Makassar ke Goa.

Bait 514-534: Penutup. Pengarang mengekplisitkan moral cerita (bait 514). Selanjutnya pada bagian ini diceritakan pula perjanjian damai terakhir (Perjanjian Bongaya) untuk mengakhiri perang ini, kesimpulan pengarang, dan pengarang mengungkapkan identitas dirinya dan memohon maaf untuk terakhir kalinya.

Skinner juga mencatat tanggal peristiwa-peristiwa penting yang disebutkan dalam Syair ini. Dengan demikian, sampai batas tertentu, Syair Perang Mengkasar bersesuaian dengan catatan sejarah VOC (dan sumber Barat pada umumnya) mengenai perang ini (Seperti telah dikaji oleh Leonard Y. Andaya 1981; terjemahan Indonesianya oleh Ininnawa 2004).

Namun demikian, historiografi tradisional, seperti Syair Perang Siak, Syair Perang Wangkang, Babad Blambangan, Surat Keterangan Syekh Jalaluddin karangan Fakih Saghir, dan Syair Perang Mengkasar—sekedar menyebut contoh—memiliki logika dan struktur sendiri, yang berbeda dengan logika dan struktur catatan sejarah karya orang Barat. Historiografi tradisional kita mengandung informasi mengenai masa lampau kerajaan

Berbeda dengan sumber-sumber Barat yang sering hanya memberikan urutan kronoligis peristiwa sejarah dan kadang cenderung statistis, sumber-sumber pribumi seperti historiografi tradisional sering merepresentasikan hubungan yang berkelindan antara pikiran dan perasaan (emosi) penulisnya. Sumber-sumber pribumi seperti ini adalah bagian integral dari budaya lokal Nusantara. Melaluinya kita tidak hanya dapat memahami berbagai ketegangan, konflik, dan keprihatinan pada pemimpin lokal itu tetapi juga cara mereka memandang dunia lokalnya dan orang asing.

(Sumber : Suryadi, Leiden Institute for Area Studies, Universiteit Leiden, Belanda )


0 comments:

Post a Comment