Sunday, February 16, 2014

Kisah Datu Museng dan Maipa Deapati

540 Tahun  yang lalu Inggris melahirkan Seorang penulis yang karyanya dikenang hingga saat ini. William Shakespeare, dari goresan tangannya telah melahirkan puluhan naskah-naskah yang mengagumkan. Salah satunya adalah Romeo dan Juliet yang hampir dipentaskan diseluruh dunia dan telah menghiasi buku dan Film-film animasi.

Romeo dan Juliet karangan William Shakespeare ini juga ternyata ada di Sulawesi Selatan. Mungkin dewasa ini generasi mudah telah melupakan cerita percintaan Datu Museng dan Maipa Deapati. Kisah percintaan yang dituturkan oleh orang tua kepada anak cucu yang banyak mengandung unsur pendidikan, perjuangan, dan makna akan kesetiaan.

Sumber : Dewan Kesenian Makassar

Kisah ini berawal dari Addengareng kakek Datu Museng yang merupakan bangsawan Kerajaan Gowa melarikan diri ke tanah Sumbawa dikarenakan Tanah Gowa yang bergejolak dikarenakan Politik adu domba yang dilancarkan oleh pemerintahan Kolonial Belanda.

Di tanah Sumbawa, Datu Museng tumbuh dewasa,  di Pondok pengajian Mmpewa, Datu Museng bertemu dengan Maipa Deapati yang merupakan Putri Bangsawan Sumbawa.

Akhirnya tumbuh benih cinta dihati Datu Museng sejak pertama kali melihat sosok Maipa Deapati yang anggun dan mempesona. Namun cinta dari Datu Museng kepada Maipa Deapati menjadi sebuah cinta yang terlarang karena Maipa Deapati telah ditunangkan dengan seorang pangeran Kesultanan Sumbawa, Pangeran Mangalasa.

Setelah kakek Datu Museng mengetahui bahwa cucunya mencintai Maipa Deapati, alangkah terkejutnya sang kakek. Sang kakek dari Datu Museng merasa malu karena merasa bahwa mereka hanyalah sebongkah emas yang telah terkotori oleh lumpur, sedangkan Maipa Deapati adalah Putri Kerajaan Sumbawa. 

Datu Museng mengetahui bahwa cintanya kepada Maipa Deapati terhalang oleh tembok yang kokoh, maka atas anjuran sang kakek, berangkatlah Datu Museng ke tanah Mekkah untuk berguru. Disanalah ia mendapatkan ilmu "Bunga Ejana Madina". Kepergian Datu Museng ke tanah Mekah ternyata bukannya membuat kedua insan yang saling mencinta ini menjadi terpisah, melainkan perpisahan itu malah semakin membuat ikatan hati antara keduanya semakin kuat.


Selepas mendapatkan ilmu di tanah rantau Mekkah, maka Datu Museng pulang kembali ke Sumbawa dengan membawa rindu yang sangat besar kepada Maipa Deapati. Sesampainya di Sumbawa ternyata sang kekasih yang dirindukan jatuh sakit, maka Datu Musengpun menolong Maipa Deapati dengan ilmu yang didapatkannya dari tanah Mekkah.

Mendengar kabar bahwa sang tunangan Maipa Deapati mencintai Datu Museng, membuat perasaan cemburu di hati Pangeran Mangalasa bergejolak, Pangeran Mangalasa lantas bersekutu dengan Belanda dengan tujuan untuk membunuh Datu Museng. Tetapi Datu Museng yang teramat sakti itu tak dapat dikalahkan oleh Pangeran Mangalasa dan Belanda.

Akhirnya Datu Museng mendapat restu dari Sultan Sumbawa, merekapun lantas dinikahkan dan Datu Museng diberikan pangkat sebagai Pangllima perang. Belum beberapa lama menikah, berhembus kabar bahwa di Makassar tengah bergejolak kekacauan yang disebabkan oleh pemerintah Belanda yang berkuasa ditanah Makassar. Sultan Lombok lantas meminta Datu Museng ke Makassar untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Maka berangkatlah Datu Museng dan istrinya Maipa Deapati ke tanah Makassar, setibanya di Makassar, Datu Museng mendapatkan tantangan lain karena Kapten dari Belanda itu justru mencintai Maipa Daepati, dan melancarkan berbagai macam serangan kepada Datu Museng untuk merebut Maipa Deapati dari Datu Museng. Akibatnya Datu Musengpun terdesak akibat serangan Belanda tersebut. Namun bagi Maipa Deapati cintanya ke Datu Museng adalah harga mati baginya, ia tidak mengijinkan seorang pun untuk mengambilnya dari Datu Museng. Sang kekasih Maipa Deapati lantas meminta kepada Datu Museng untuk membunuhnya, sebab cintanya kepada Datu Museng hanya untuk Datu Museng seorang, ia merasa lebih biak mati daripada harus menyerahkan dirinya kepada Belanda.

Dengan sangat berat hati Datu Museng lantas mengabulkan permintaan sang istri, iapun lantas menikamkan Badik pusakanya ke leher sang kekasih tercinta. Setelah itu, karena rasa cinta yang dalam kepada istrinya Maipa Deapati, Datu Musengpun lantas melepaskan semua ilmu ilmu yang dimilikinya, membiarkan dirinya dibunuh oleh penjajah Belanda.


Ternyata Kisah lainya yang memiliki kesamaan juga terdapat di Bulukumba, yakni kisah percintaan Antara Baso Kunjung Barani dengan Samindara. Cerita ini pernah dimuat dalam Buku Something in Bulukumba Buah tangan Ari Dirgantara dkk.

Masihkah Generasi muda saat ini tahu akan cerita local yang merupakan kekayaan Nusantara?

Referensi :
Kajian Sastra "Sekolah Sastra Bulukumba
Buku Something in Bulukumba
www.lobelobenamakassar.com


0 comments:

Post a Comment