Tanjung Bira

Tanjung Bira, Kab. Bulukumba, Prov. Sulawesi-Selatan, Indonesia.

Sanggar Seni Panrita

STIKES Panrita Husada Bulukumba

Sekolah Sastra Bulukumba

Sekolahnya Penulis Bulukumba

Lopi Phinisi

Melanglang buana menerjang ombak mengarungi samudera

Suku Kajang, Bulukumba, Sulawesi Selatan

Hidup Selaras dengan Alam sebagai Kosmologi Suku Kajang, Bulukumba, Sulawesi Selatan

Saturday, October 10, 2015

Bulan Merah

Kretek yang mengepul keluar dari mulutnya, dihisapnya dalam-dalam sembari menyeduh kopi menantang malam. Angin berhembus pelan dan pohon-pohon mematung menepis cahaya rembulan yang bersinar terang malam itu.

Penjagaan yang ketat malam itu dilakukan karena salah satu pelaku zinah yang telah ditangkap sore tadi akan di rajam pas diperempatan jalan dibawah pohon asam. Rencananya mereka akan segera dikubur di bawah pohon itu dengan tubuh dikuburkan dan hanya kepala yang menghadap langit  sembari dilempari batu oleh para pejalan kaki yang akan kepasar. Yah begitulah hukuman bagi mereka yang telah berbuat zinah, selain itu bagi mereka yang mencuri akan ditangkap dan diseret ke pohon asam itu dan tangan mereka akan dipotong, sekali terbukti mencuri maka jari-jari tangannya akan dipotong, jika kedua kali maka lengan tangannya yang akan dopotong, jika mengulagi lagi maka Ia harus merelakan kepalannya terpisah dari tubuhnya dan ditingkkalkan begitu saja membusuk begitu saja atau dimakan anjing hutan dibawah pohon itu. jika beruntung, maka tubunnya akan di maqamkan.

Pelaku Zinah yang telah ditangkap sore itu hanya terus tertunduk menatap dinding dari pelepah pohon sagu, menunggu nasib mereka yang berakhir menungguh kepala mereka menjadi sasaran lemparan batu sampai napas terakhir berhembus meninggalkan jasadnya. Hami yang malam itu bertugas menjaga mereka, lepas tengah malam maka Kari yang akan menggantikannya. Sesuai perintah Komandan Hasanuddin, mereka akan di Rajam besok pagi tepat matahari muncul disela-sela Gunung Bawakaraeng. Semua persiapan telah dilakuakan, mulai dari lubang tempat mereka akan dikubur dan batu-batu yang akan menjadi penjemput maut mereka.
"Hami, saatnya saya yang berja". Ucap Kari yang telah datang dengan segepal nasi ditangannya.
"Kari, kau mau apakan nasi itu?". ucap Hami.
"Akan saya berikan kepada dia !". ucap Kari Sembari menunjuk kepada perempuan itu.
"Untuk apa lagi, mereka akan segera mati besok pagi !". Ucap hami dan kemudian pergi tidur bersama laskar-laskar lainnya yang lelah berjalan jauh mengamankan Desa dari para tentara.

dengan Nasi yang ada ditangannya, Kari menghampiri Perempaun itu dan memberikannya.
"Kau pantas mendapatkan ini, makanlah". Ucap kari sembari menaruh nasih ditempurung kelapa yang ada didekat Perempuan itu, tempurung kelapa tempat Makan tahanan minggu lalu yang telah mati karena mencuri berulang kali.

Kari kemudian membuka sarung yang diselempangnya dan mengambil Tembakau dan ia gulung sambil menatap rembulan yang bersinar terang dari sela-sela pohon, seiring hilangnya rembulan dilangit, entah berapa gulung tembakau yang Ia hisap malam itu, Ia terus memandangi Perempuan itu, perempuan yang ditinggal suaminya melaut sejak dua tahun lalu itu telah Hamil besar, Ia diketahui telah berzinah karena perutnya yang semakin membesar dan suaminya pergi melaut. Setelah ditangkap sore itu, Ia dipaksa menyebut bapak dari calon bayi itu, dan Ia menyebut sepupunya Hasan. Sore itu pula Hasan dijemput di Rumahnya, bersama mereka diarak keliling kampung dan kemudian disimpang di tempat itu.

"Saya sebenarnya tidak sanggup melakukan ini, tapi ini adalah perintah". Ucap Kari dengan gepulan asap keluar dari lubang hidungnya.
Perempuan itu hanya tetap menatap dinding dari pelepah sagu itu, dengan pandangan kosong dan air mata terus mengalir dimatanya.
"Janganlah kau menangis, Sebentar subuh, saat semua teman-temanku sembahyang subuh, saya akan melepaskan kau, tapi dia tidak !". Tunjuk Kari kepada Hasan, laki-laki yang telah diikat di rumah seberang.
Perempuan itu kemudian berpaling dan menatap hasang dari sela-sela dinding pelepah sagu, dengan mata yang penuh air mata, ia menatap Kari dengan diam.
Ayam berkokok membangunkan para laskar itu dan segera mereka pergi untuk membasu muka dan Wudhu untuk sembahyang subuh.
"Inilah saatnya, Kamu segera pergi, tapi Ingat !. Jika kau tertangkap maka saya yang akan dulu memotong lehermu". Ucapnya dengan suara pelang.
Sontak, Perempuan itu berlari meninggalkan tempatnya di tahan, dan kemudian menghilang dibalik gelap malam.
Kari pun lekas membasu muka dan Berwudhu, Ia kemudia shalat subuh bersama teman-temannya.
"Kari, dimana kau ?". Teriak Hami.
"Saya disini, saya baru saja sembahyang Subuh, kenapa ?". Jawab kari.
"Perempuan itu melarikan diri !". Jawab Hami.
"Tunggu apa lagi, kita cari". Jawab Kari.
Mereka kemudian bersiap untuk mencari, mereka terbagi emapat penjuru mata angin, Hami dan kari ka timur mengarah laut sedangakan yang lain mengarah ke arah yang lain, mentari mulai tampak membias dari Gunung Bawakaraeng. langkah kaki mereka semakin cepat, berdoa menyusul Perempuan itu. Tiba-tiba Hami melihat bekas seseorang yang telah melewati semak-semak.
"Dia pasti lewat sini". Ucap Hami
Mereka kemudian melepaskan tembakan kearah semak-semak hutan, letusan dan bauh bubuk mesiuh mengisi pagi itu, setelah menembakkan peluru sepuluh kali, mereka kemudian melanjutkan pencarian. Pencarian mereka sampai di bibir tebing, mereka melihat ceceran darah di ilalang dan daun-daun. Mereka yakin, peluru mereka telah menemui sasarannya. Pencaharian mereka berlanjut, mereka mengikuti darah yang ada di daun-daun dan semak belukar. Kari dengan perasaan taku berjalan didepan, Ia berencana menebas perempuan itu jika menemukannya, karena Ia akan mendapatkan hukuman yang berat jika teman-temannya mengetahui jika Ia telah melepaskan tawanan yang Ia jaga. Langkah Kari semakin cepat melawati hutan mengikuti jejak darah di daun-daun.

Letusan senjata terdengar, Hami yang telah menemukannya.
"Ketemu". Teriak Hami.
Kari kemudian berlari menuju suara, teriakan Hami. sesampai di sumber suara, Kari terpaku melihat perempuan yang telah Ia lepaskan dengan Bayi penuh darah ditangannya, Perempuan itu telah melahirkan seorang puteri, yah... Puteri, puteri dengan ari-ari yang belum terpotong.
"Serahkan anak itu !". Ucap Kari.
Perempuan itu tetap saja terdiam, terdiam lemas ditempatnya Ia memangku anaknya tanpa sehelai pun kain menutupi tubuhnya, perempuan itu telanjang karena sarung yang ia kenakan dipakai membungkus bayi yang Ia lahirkan. Perempuan itu kemudian menatap bayi perempuan yang telah Ia lahirkan dan menyerahkannya.

Hami yang menerima bayi itu, Tanpa ragu, Kari menebas leher perempuan itu dan berkata
"Maaf... !, biarkanlah saya yang merawat puterimu".
Kari kemudian membawa bayi itu dan meninggalkan Perempuan itu bersimbah darah tanpa kepala.

*** TAMAT ***

Bulukumba, 28 Shawwal 1436 H

Zulengka Tangallilia

INARI

Aku panggil Ia Inari, wanita yang datang pada suatu senja dari musim semi membawa setangkai bunga yang telah lama terlelap dalam dekapan dingin musim dingin. Ia datang dengan mata sayup dan bibir merah tipis. Pertemuanku dengannya terjadi empat musim semi yang lalu dengan seledang putih menari ditubuhnya digoda angin.

Aku adalah lelaki yang terlahir dengan sepi dan air mata. Tepat tangisan pertama, Ibuku mati karena dingin yang menusuk tubuhnya di sebuah gubuk ditengah hutan tepat pohon-pohon sakura menjatuhkan bunganya. Tangisan itulah yang membuat ayahku seorang pencari kayu bakar menemukanku dan menjadikan putranya, ayahku tinggal sendiri ditemani seekor anjing di pinggiran desa kaki Gunung Fuji dan beberapa musim lalu maninggal dunia.

Kehidupanku yang miskin membuat Gadis desa menjauh dariku, hari-hari aku lalu dengan bekerja mencari kayu bakar dan menukarnya dengan sekepal beras. Saat-saat Es mulai meleleh kumulai hariku masuk hutan mencari kayu bakar dan pada suatu saat ditengah hutan aku menemukan lapangan luas dengan satu batang pohon sakura dengan bunga yang kuncup. tiba-tiba aku dikejutkan dengan wanita yang datang membawa setangkai bunga dengan mata sayup dan bibir merah tipis dengan luka ditubuhnya dan terjatuh didepanku. Aku membawa pulang dan merawat lukanya, tepat sore hati ketiga Ia akhirnya terbangun dari tidurnya, Mulanya Ia diam tanpa kata dan hanya terus saja memandangiku depan perapian, tiba-tba ia bercerita jika keluarganya mati karena perampok yang menyerang desanya dan tidak memiliki tempat untuk pergi. Kami melalui hari-hari bersama, dan akhirnya menikah dan dikaruniai dua orang anak, laki-laki dan perempuan.

Pada suatu saat, anjingku melahirkan dan tiap melihat istriku selalu saja menggonggong dan ingin menerkam.

"Suamiku, sebaiknya kamu buang saja anjing itu".
"Sayang, Aku tak mungkin membuang anjing itu, Ia adalah anjing yang selalu menjaga ayahku dulu begitupun aku".
"Baiklah, jikalau itu maumu, biarlah anjing itu tetap tinggal bersama kita".

Tiba-tiba, Anjing itu melompati istriku dan ingin menerkam, Istriku takut dan melompat menjadi Rubah dan terbang masuk hutan. Tubuhku tak mampu aku gerakkan, mulutku tak mampu berkata apa-apa, kejadian itu bagai tebasan Katana seorang samurai tepat pada leher lawannya. Hari demi hari aku lalui tanpanya, Musim semi hampir berakhir dan Ia tidak pernah kembali, kedua anakku selalu saja mencari ibunya yang selalu bernyayi tiap kali ingin tidur.

Pada suatu senja, Aku kembali kelapangan tempat tumbuh sebatang pohon Sakura, tempatku pertama kali bertemu dengannya.

"Wahai istriku, meski engkau adalah Seekor Rubah, engkau tetap Istri dan Ibu dari kedua anakku. Kembalilah. aku mencintaimu dan selalu menunggumu".

*** BERSAMBUNG ***

Oleh : Zulengka Tangallilia

Karena Janji, Aku menjadikan malam ini sahabat dan menulis untukmu.

Diadaptasi dari Cerita Jepan "KITSUNE"
Pukul 02:39 AM

Makassar, 10 Oktober 2015

Tuesday, July 7, 2015

Terlalu Banyak Kemungkinan Dalam Sebuah Peristiwa

Foto : http://2.bp.blogspot.com/-
Malam ini setelah aku menonton sebuah film bollywood yang berjudul (*****) DUA lanjutan dari fIlm (*****) yang dirilis sekiitar tahun 90_an, (*****) dua bercerita tentang seorang lelaki yang terpaksa mengakhiri kisahnya dengan bunuh diri (ini di ending filmnya yah) dengan cara terjun bebas dari atas jembatan sambil merenggangkan tangan.

Tapi dalam fikiranku yang pertama, dia tak berniat bunuh diri, melainkan ingin mencoba menggunakan kedua tanganya untuk terbang seperti seekor burung yang terjun dari atas ketingggian kemudian mengepakkan sayapnya untuk terbang, tapi alhasil yah tak berhasil. 

Pemikiranku yang ke dua mungkin dia pernah berimajinasi, sembari duduk menikmati jamuan di beranda ketika gerimis sedang turun bersama pelangi, bahwa pada saat terjun dari ketinggian dia akan tiba-tiba menjadi malaikat bersayap untuk kekasihnya seperti dalam dongeng dan ketika itu menjadi kenyataan dia akan menjaga kekasihnya dari jauh dan ketika bahaya datang menghalagi kekasihnya dengan senang hati dia akan memindahkan musibah itu kepada orang lain tanpa bertanya terlebih dahulu apakah orang itu mau apa tidak dengan musibah yang seharusnya terjadi kepada kekasihnya.

Pemikiranku yang ke tiga mungkin dia berimajinasi ketika terjun ke dalam sungai (aku lupa mengatakan lelaki itu terjun di atas jembatan yang di bawahnya terdapat sungai yang sangat besar dengan air yang sangat keruh) dia akan menjadi ikan lumba-lumba, dan ketika kekasihnya berlayar dengan perahu dia akan datang dan menyapanya dengan mengatakan “hai aku telah menjadi lumba-lumba, oh ya apa kabarmu setelah aku tinggal menjadi lumba-lumba.?”(mungkin dia selalu mengutuk dirinya sebagai manusia dan lebih memilih ingin menjadi lumba-lumba).

pemikiranku yang ke empat, dia mungkin mempercayai adanya portal untuk ke dunia lain yang terletak pada pertengahan ketingian antara jembatan dan air sungai (mungkin ketika kecil ibunya atau neneknya pernah menceritakan hal seperti itu “ini fikiranku yah, sama sekali tak seperti dalam film”) dan hanya dapat di lalui dengan cara melompat dari atas jembatan alhasil dia tak menemukannya yang dia temukan malah kematian, atau mungkin pula dia hanya menyenggol portal tersebut, jika seperti itu alangkah malang nasibnya.

Pemikiranku yang ke lima, dia mungkin ingin mengakhiri kisah hidupnya seperti dalam film-film, cerita dongeng, novel fiksi dll agar terlihat menyedihkan di ending. Pemikiranku yang ke enam, mungkin pula dia pernah memiliki seorang kekasih yang mati di karenakan tenggelam di sungai ketika sedang asik masyuk buang air besar yang telah dia tahan selama dua jam dalam sebuah forum diskusi, pada saat itu hujan turun, petir, suara gledek saling bersahutan satu sama lain mengagungkan keesaaan tuhan, tapi alhasil ketika menikmati suasana buang air besar tiba-tiba banjir bandang datang dan menyeratnya karena cekkeng-cekkeng (Jongkok) terlalu ke pinggir, dan semenjak kematianya lelaki itu selalu melihat kekasihnya melambai-lambaikan tangan kepadanya dari dalam sungai.

Pemikiranku yang ke tujuh, mungkin salah satu teman baik dari dia (lelaki itu), telah menemukan malaikat yang menjual tiket ke surga, dan membeli dua tiket, satu untuknya dan satu untuk dia, alhasil dia cepat-cepat naik mobil pribadinya menuju tempat yang paling baik untuk bunuh diri, tempat yang selalu mengabulkan permintaan kematian dari seseorang yang memang benar-benar menginginkannya, dan dia benar-benar mengiginkanya, seandainya dia pura-pura, mungkin hanya akan menderita patah tulang disana-sini, paru-paru di penuhi air, dan kemungkinan masih selamat ketika tim penyelamat tepat waktu. (setelah melihat mayat dia (lelaki kita) temannya urung bunuh diri.

Pemikiranku yang ke delapan mungkin dia (seperti kebanyakan kasus bunuh diri) telah bosan hidup, dan menurut gosip hot yang telah dia percayai, bunuh diri akan menyesaikan masalah, diapun mencobanya (hanya coba-coba). Pemikiranku yang ke Sembilan, dia selalu ingin menyepi sendiri, tapi tak penah menemukan tempat yang benar-benar mampu membuatnya menikmati sepi dan akhirnya memilih bunuh diri sebagai jalan terakhir menikmati sepi yang benar-benar sepi.

Pemikiran ke sepuluh.....
Dia di berikan sebuah cinta yang sangat besar dari seorang perempuan, tapi tak mampu ia tampung dalam hatinya, cinta perempuan itu telah dia ambil pada sebuah malam yang purnama yang kemudian di kembalikannya lagi dalam keadaan berdarah-darah pada sebuah musim yang kering, hati dia telah penuh dengan cinta, dan hal itu membuat si perempuan bersedih sebab cinta yang sangat besar untuk lelaki kekasihnya (walaupun belum mempunyai status yang sering kalian sebut sebagai pacaran seorang yang jatuh cinta boleh dan sah-sah saja jika menyebut orang yang di jatuh cintainya sebagai keasih, siapa yang larang coba.?) tak mendapatkan tempat, dan cinta perempuan itu pun tak terbalaskan sebagai mana mestinya, atau mungkin hati dia belum penuh, ada sebuah ruang kosong yang ingin dia nikmati dengan seorang kekasih dan dia berfikir ruang itu bukan untuk perempuan yang telah membawakannya cinta, hingga suatu hari yang terlambat, setelah hatinya telah dia isi dengan perempuan kekasih lain, dia baru menyadari bahwa ruang kosong yang kini telah terisi bukan untuk perempuan kekasihnya melainkan untuk perempuan yang telah rela membawakan cinta kepadanya, fikiran lelaki itupun telah sampai pada suatu titik yang tak dapat menerima koma (jalan buntu), sebab hatinya benar-benar telah penuh dan isinya tak dapat di tukar untuk sekaleng coca-cola, diapun akhirnya memilih bunuh diri, melompat dari atas jembatan.

Pemikiran yang sebelas.....
Dan ketika aku menjadi dia (lelaki itu) dan mempunyai11 kesempatan untuk bunuh diri dengan imajinasiku yang konyol, aku akan menggunakan 10 kesempatan seperti diatas, sangat mungkin kesempatan yang terakhir (yang ke sebelas) aku akan melompat penuh putus asa dengan kepala tertunduk, tapi sayang aku tak pernah terfikirkan untuk bunuh diri, terlalu banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan, walaupun hingga kematian menjemputku pekerjaan itu tak akan pernah selesai.




Tuesday, June 30, 2015

Situs Kompleks Makam To Salamatta RiJalayya

Secara administratif situs ini berada di Lingkungan Jalayya, Kelurahan Tanah Jaya, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba. Secara astronomis berada di titik koordinat 05° 20’ 36,7” LS dan 120° 22’ 22,4” BT. Situs ini terletak di sebuah lembah yang di sisi utaranya berbatasan dengan jurang dengan kemiringan permukaan tanah 107°. Sebelah selatan, timur dan barat situs berbatasan dengan kebun warga. 

Makam To Salamatta Ri Jalayya yang berada dalam ruangan bangunan bata dan diberi atap seng

Menurut informasi dari warga sekitar situs bahwa pengelolaan makam (situs) tersebut telah diwakafkan ke pemerintah dalam hal ini BPCB Makassar. To Salamatta Rijalayya bernama asli To asara Daeng Mallipa merupakan tokoh penganjur agama Islam yang ketiga di Kajang pada sekitar abad ke-17, setelah Janggo Tujarra dan Janggo Toa. To Salamatta Ri jalayya adalah anak dari Syekh Yusuf Tuanta Salamaka ri Gowa. Oleh sebab itu, beliau juga digelari To SalamakaRi Jalayya (Tuan pembawa selamat di Jalayya).Konon, makam beliau hanya merupakan sebuah lokasi yang diyakini juga sebagai lokasi lenyapnya beliau.Jadi, di dalam makam tersebut tidak terdapat mayat beliau, namun tetap diberikan nisan.

Situasi Kompleks Makam To Salamatta Ri Jalayya
Dalam kompleks makam yang telah diberi batasan beton cor ini terdapat 6 (enam) buah makam kuna. Salah satu di antaranya adalah Makam To Salamatta Ri Jalayya khusus berada di dalam bangunan yang terbuat dari konstruksi bata. Makam To Salamatta memiliki ukuran panjang 2 m, dengan lebar makam 1,5 m, makam ini tidak memiliki jirat dan gunungan, hanya ada nisan saja yang berbentuk/ tipe Menhir yang hanya ditancapkan ke tanah, berwarna hitam kecoklatan. Makam kuna lainnya berada diluar bangunan.Pada bagian barat bangunan, terdapat 2 buah makam, sedangkan di bagian selatan terdapat 3 buah makam.

Makam isteri dari To Salamatta Ri Jalayya yang bernama Puang Doang Daeng Maeja
Menurut informasi warga sekitar, makam yang berada disisi selatan makam To Salamatta adalah makam istrinya yang bernama Puang Doang Deang Maeja dengan ditandai dengan 2 nisan dalam satu makam.Keempat makam yang lain tida dikenali identitasnya.

Pada umumnya nisan dalam situs ini terbuat dari batu andesit dengan tipe nisan menhir. Ukuran panjang makam yang berada di luar bangunan rata-rata memiliki panjang 4 m, dan lebar 1,5 m. 


Sumber : A. Oddang dalam laporan penyuluhan Budaya Triwulan I Tahun 2013 di Kajang, Kab. Bulukumba