Tanjung Bira

Tanjung Bira, Kab. Bulukumba, Prov. Sulawesi-Selatan, Indonesia.

Sanggar Seni Panrita

STIKES Panrita Husada Bulukumba

Sekolah Sastra Bulukumba

Sekolahnya Penulis Bulukumba

Lopi Phinisi

Melanglang buana menerjang ombak mengarungi samudera

Suku Kajang, Bulukumba, Sulawesi Selatan

Hidup Selaras dengan Alam sebagai Kosmologi Suku Kajang, Bulukumba, Sulawesi Selatan

Wednesday, January 6, 2016

Putri Pada Marauleng

" Aku sebenarnya bersedih, sedih itu menggerayam masuk ke tubuhku yang mula-mula dari paha hingga pelan sangat pelan naik ke wajahku dengan begitu cepat masuk ke dalam tubuhku, di dalamnya Ia semakin mengjadi-jadi.
Menjadikan kepingan darahku sebagai inang dan menjelajah keseluruh sel-sel tubuhku hingga Ia menjadi Aku. Aku yang saat ini. "

Itulah mungkin sekelebat perumpamaan bagi orang-orang yang berlalu lalang di sekelilingku. Sudah tak mampu lagi kuhitung berapa musim berganti, mereka dan sampai-sampai Aku pula acap kali menuliskan kata-kata Afrodit saat orang-orang kelaparan, kemiskinan yang semakin telanjang, perang diselah-selah berita olah raga, anak-anak lupa membaca dan saat-saat hak kemanusiaan tergilas, sedangkan Aku masih saja menuliskan tentang rasa kenyang, Cintah kasih, dan indahnya dunia. Betapa hinanya Aku, menggengam pena yang begitu bebas dan masih saja tak mampu menuliskan semua ini.

Aku mungkin saja sudah mati bersama pesan yang Aku kirimkan ini.

Thursday, December 31, 2015

Selamat tahun baru 2016 M

Menanti tahun baru 2016
Semoga kita semua diberikan rahmat dan hidayah oleh Tuhan yang maha esa untuk tetap menikmati hangatnya mentari pagi, Indahnya senja di bibir pantai, Menikmati kilau Pamor polobessi, melihatmu tersenyum, dan yang paling penting seluruh orang-orang disekitar kita tetap sehat selalu.

Bulukumba
19 Rabi-al Awaal 1437 H.

Topada salamaki.

Sunday, December 27, 2015

Dompea

"Dasar bodoh, Kamu tidak perlu lagi keluar masuk hutan, kelaparan, Menenteng bedil dan puluhan amunisi yang berat. sekarang itu jamannya jadi pejabat, korupsi banyak-banyak, beli surat kabar, Stasiun Televisi, dan Radio".

Entah apa yang ada didalam pikirannya. Dulu, Lelaki tua itu adalah mantan gerombolan paling dicari. Sambil tersenyum, Ia menghisap dalam-dalam tembakau yang telah digulungnya.

(Penggalan cerita "Dompea")

Saturday, December 26, 2015

Masa Lalu

Aku memiliki banyak kesalahan dalam hidup. Sampai saat ini masih membekas, semakin hari semakin dalam. Untuk menguburnya mesti menuliskannya dan itu salah satu obat yang paling mujarab selain menatap senyummu dalam sebuah kanvas di dinding.

Negeri satu kamar

Mendengar lantunan Gloomy Sunday membuatku kembali tenggelam dalam angan-angan. Semua kembali menari, Pesta sabtu malam dan hitam secangkir kopi menambah kemeriahan. Semua berhamburan ke lantai jingkrak menggetarkan seluruh tubuhnya. Kali ini semua bergembira tak terkecuali cicak yang berpesta dengan nyamuk dan tokek dengan santapanya cicak, saling memangsah dalam keriangan, satu persatu hingga tersisa empat pasang dengan gerakan Irish Dance, botol dengan tarian salsa, cangkir menggerakkan perutnya berusaha menarikan Belly dance.

Tiba-tiba bantal dan guling meloncat dari ranjang menari mengelilingi kamar, dari sekian tarian yang pernah Ia perlihatkan, malam ini bagaikan Siwa Nata Raja menggoyangkan seluruh badannya hingga semua tercengang, tokek berteriak.

"Inilah dia Penari Kosmis, tidak sembarang ditarikan. Hanya mereka yang beruntung yang dapat menyaksikan, dan mereka yang beruntung adalah kita semua".

Guling yang terus saja menari membuat semua tercengang, Buku dengan ribuah katanya tak mampu mengedipkan mata, pulpen dan pensil hanya tercengang dengan mulut terbuka, kursi, cangkir, botol, puntung rokok, kemoceng termengung.

"Hentikan tarianmu Guling, tarian yang begitu indah tidaklah berarti apa-apa jika kami semua hanya melihat dan tidak ikut dalam kegembiraan, Ini bukan pesta namanya".

Seisi kamar memandangiku. dan semua kembali diam dan meninggalkanku dalam sunyi.

Selamat malam.

#Topada_Salamaki.